Memahami Persahabatan Seutuhnya

Memahami Persahabatan Seutuhnya

MEMAHAMI PERSAHABATAN

Ambrosius M. Loho (Dosen Unika De La Salle Manado-Pegiat Filsafat/Estetika-Praktisi Seni Tradisional)

 

    Pemikiran Yunani Kuno, selalu diidentikkan dengan Pemikiran Barat. Bahkan ketika kita mencoba mengutak-atik Sejarah Pemikiran Barat pun, kita tidak tanpa terkait dengan pemikiran Yunani Kuno. Mengapa demikian terkait? Dalam karyanya: Petualangan Intelektual (2004), Simon L Tjahjadi, menguraikan bahwa gaya dan alam pemikiran Yunani cukup membantu kita memahami unsur-unsur yang sebagian besar menjadi batu bangunan untuk kultur modern. Dengan mempelajari dunia pemikiran Yunani kuno, kita melakukan suatu usaha retrospektif untuk memahami mengapa dan bagaimana kultur modern dan kultur ilmiah yang terbentuk sekarang ini. Tidak terpisah dengan itu adalah pemikiran kuno tentang persahabatan. 

    Pemikiran tentang persahabatan, sangat menarik untuk direfleksikan. Maka berpijak dari pemikiran kuno sebagaiman dikatakan, membantu kita memahami unsur-unsur pembentuk kultur modern (saat ini), kita kemudian melirik situasi nyata saat ini bahwa, ada sekelompok orang, mencoba mendekati semua kalangan untuk menjadi ‘sahabat’-nya. Sekelompok orang ini berusaha untuk mendekati siapa saja, supaya mereka bisa meraup ‘suara’ (atau elektabilitas) pada saat pemilihan legislatif dan pemilihan-pemilihan lainnya. Bandingkan situasi sekarang ini, banyak orang memulai dengan blusukan ke mana saja, untuk menarik simpati warga. 

    Tidak itu saja, pada dasarnya persahabatan menjadi kunci ketika kita hidup dalam keragaman. Keragaman budaya, latar belakang, agama, dan lain-lain, pada akhirnya harus ditarik ke dalam satu kata kunci yakni persahabatan. Kita harus bersahabat kendati pun kita berbeda dalam segala hal. Dalam situasi yang demikian, justru kita harus mengawalinya dari situasi di mana substansi dan arti sesungguhnya dari persahabatan harus dipahami dengan benar, sehingga persahabatan yang tumbuh adalah persahabatan yang substansial. Persahabatan bukan hanya tumbuh karena saya membutuhkan engkau, maka engkau harus bersahabat dengan saya, tetapi melebihi itu. 

    Seorang pegiat filsafat politik, Rinto Namang pernah menguraikan dalam refleksinya tentang persahabatan. Dalam refleksinya, dia menemukan sebuah pemahaman bahwa persahabatan yang baik adalah persahabatan yang didasarkan pada cinta karena memang persahabatan adalah sesuatu yang indah (kalon). Persahabatan yang baik juga tidak bersifat mutual resiprokal saja, tetapi bersifat resiprokal yang dilandasi dengan kehendak baik (goodwill). Dalam persahabatan ini orang akan sama-sama merasa ‘diuntungkan’ karena mereka yang bersahabat adalah mereka yang berkeutamaan. (Bdk. EN VIII.2, 1156a5-6). Jadi persahabatan yang dimaksudkan adalah persahabatan yang tidak terbatas pada suka tidak suka, atau suka dalam situasi yang sesaat saja, melainkan persahabatan yang didasarkan karena kehendak baik. 

    Sementara jauh sebelum itu, Aristoteles membedakan persahabatan (friendship) ke dalam tiga bagian: Pertama, persahabatan yang didasarkan pada kegunaan (utility). “Mereka yang mencintai satu-sama lain karena kegunaan (utility) tidak mencintai orang lain pada dirinya sendiri tetapi karena beberapa kebaikan yang mereka peroleh dari orang tersebut. (EN VIII.2, 1156a10-12). Kedua, persahabatan yang didasarkan pada kenikmatan (pleasure). Orang yang mencintai karena kenikmatan dan kesenangan tertentu, bersahabat sejauh menyenangkan diri mereka sendiri. Mereka yang mencintai karena kenikmatan dan kesenangan tertentu tidak mencintai orang pada dirinya sendiri tetapi karena orang tersebut berguna dan menyenangkan diri mereka. (EN VIII.2, 1156a14-15). Ketiga, persahabatan sejati adalah persahabatan yang didasarkan pada orang-orang yang sama-sama berkeutamaan dan dibangun demi perhatian dan persahabatan pada para sahabat itu sendiri (Bdk. EN VIII.2, 1156b6). 

    Selain itu, Aristoteles mengatakan bahwa persahabatan didasarkan pada keutamaan: Beberapa orang mungkin tidak mampu mencintai, dan secara partikular tidak baik dalam relasi resiprokal yang niscaya dalam persahabatan, jika orang tersebut memiliki keburukan/sifat buruk. (Pakaluk: 2005: 282). Persahabatan yang sejati akan membawa seseorang kepada kebahagiaan (happiness). Kebahagiaan adalah sejenis kemakmuran/kesejahteraan, namun kita hanya bisa menikmati kesejahteraan itu dengan melakukan hal-hal baik bagi orang lain, dan (akan lebih baik) dengan susah payah (hardly) menolong orang asing dari pada teman. Kebahagiaan berkait erat dengan persahabatan karena memang manusia secara kodrati adalah makhluk sosial (Ibid.). Maka adalah mustahil dan bahkan absurd membayangkan manusia yang mampu merasa bahagia dalam kesendirian, yang beku dan bisu karena memang hal itu melawan kodratnya sebagai manusia.

    Akhirnya dapat disimpulkan bahwa sebuah persahabatan harus didasarkan pada kehendak baik, yang juga dilengkapi dengan kebahagiaan dan keutamaan sebagai manusia. dengan dasar itu, persahabatan tidak sekedar persahabatan yang dangkal. Praktek kita dalam keberagaman pun harus berangkat dari dasar yang fundamental ini. Berbeda bisa saja, tapi bersahabat dengan fondasi yang baik, niscaya semakin membangun kesatuan dan keselarasan kehidupan sosial. ***