Tantangan Mendidik Generasi Y dan Z

Tantangan Mendidik Generasi Y dan Z

TANTANGAN MENDIDIK GENERASI Y DAN Z

 

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk, M. Pd

Ka SMPK Frateran Ndao Ende

 

Pengantar

“Tindakan menyalahkan hanya akan membuang waktu. Sebesar apapun kesalahan yang anda timpakan ke orang lain, dan sebesar apapun anda menyalahkannya, hal tersebut tidak akan mengubah anda” - Wayne Dyer 

“Ia yang mengerjakan lebih dari apa yang dibayar pada suatu saat akan dibayar lebih dari apa yang ia kerjakan” - Napoleon Hill 

Zaman now, barangkali sudah tidak asing lagi dengan istilah Generasi Milenial. Meski tak terlalu paham artinya, istilah itu nyatanya sudah masuk dalam percakapan sehari-hari. Sebagai gambaran singkat, bahwa Generasi Milenial, yang juga punya nama lain Generasi Y, adalah kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1981 hingga tahun 1996, yang merupakan hasil Pew Research Center, yang menetapkan tahun 1996 sebagai tahun kelahiran terakhir generasi milenial. "Siapa pun yang lahir antara tahun 1981 dan 1996 atau berusia 22 sampai 37 tahun pada 2018, akan dianggap sebagai generasi milenial. Dan siapa pun yang lahir sejak tahun 1997 dan seterusnya akan menjadi bagian dari generasi baru," ujar Dimock

Pertanyaannya adalah mengapa, mereka yang lahir diatas tahun 1981 hingga tahun 1996, disebut Generasi Milenial? Jawabannya, karena merekalah satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua, sejak teori generasi ini diembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923.

Plus dan Minus Generasi Milenial:

Kemajuan teknologi memang tidak bisa dihindari dan kitapun dituntut untuk bisa menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan PERUBAHAN. Sebab, kalau kita tidak bisa beradaptasi dengan PERUBAHAN, maka kita akan ketinggalan Generasi-generasi Milenial yang sering dikomplain oleh para orang tua, para pendidik (yang juga mendominasi populasi kaum muda saat ini) adalah Generasi Millenial atau disebut juga dengan generasi Y. 

Definisi Generasi Milenial adalah generasi yang lahir dari tahun 1981 hingga 1995 (bahkan ada yang mengatakan sebelum tahun 2000). Mereka ini adalah orang-orang di usia produktif dan konsumen yang dominan saat ini. Jumlah Generasi Millenial di dunia kerja mencapai 50 persen dan diperkirakan tahun 2030, generasi ini akan menguasai 75 persen lapangan kerja global. Di Indonesia sendiri, generasi ini mencapai 34.45 persen populasi. Bisa dikatakan Generasi Y adalah generasi yang tidak bisa lepas dari teknologi. 

Disatu sisi, menguasai teknologi, sangat diharapkan, baik itu peserta didik yang adalah Generasil Milenial atau Generasi Y, maupun para pendidik, Generasi X. Namun, jangan sampai teknologi menguasai kita. Artinya, tanpa kita sadari bahwa selama ini teknologi, seperti smartphone-lah yang mengendalikan kita, dan harusnya kita yang mengendalikan tekonologi. Jika kita mengendalikan teknologi, maka kita menggunakan smartphone pada saat yang memang dibutuhkan dan bukannya setiap saat, kita memegang dan bermain smartphone.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa saat ini teknologi khususnya smartphone sangat penting artinya, lebih khususnya di bidang pendidikan, dimana kita saat ini, tengah memasuki dasawarsa ke-3 abad 21, maka pembelajaran abad 21 yang dicirikan dengan 4C (Critical Thinking, Communication, collaboration, Creativity), mutlak diperlukan. Pendidikan pada Abad 2 1 merupakan pendidikan yang mengintegrasikan antara kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan karakter, serta penguasaan terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Kecakapan tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai model kegiatan pembelajaran berbasis pada aktivitas yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan materi pembelajaran. Selain dari itu, kecakapan yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan pada abad 21 adalah keterampilan berpikir lebih tinggi (Higher Order Thinking Skills (HOTS)) yang sangat diperlukan dalam mempersiapkan peserta didik Generasi Milenial, dalam menghadapi tantangan global, atau dengan kata lain pendidikan dapat menciptakan masyarakat terdidik yang di masa depan nanti dapat bersaing dengan negara lain.

Demikianlah, Generasi Milenial atau Generasi Y, memang diharapkan harus bisa menguasai teknologi, dalam memudahkan “pekerjaan” dan atau dalam pembelajaran., dalam dunia pendidikan, tetapi diharapkan jangan sampai kita ataupun Generasi Milenial menjadi budak teknologi. Dan tentunya, kita dan Generasi Milenial khususnya, HARUS secara BIJAK menggunakannya. Dan disaat pandemic covid 19 sekarang ini, ketika pembelajaran melalui daring/On Line, teknologi menjadi sangat penting artinya. Jadi, belajar di rumah (Home Learning) bagi peserta didik atau mengajar dari rumah (Teach From Home) bagi pendidik, hanya akan terjadi, karena teknologi. TEKNOLOGI untuk manusia dan BUKAN manusia untuk TEKNOLOGI.

Berikut ini, adalah beberapa sisi positif Generasi Milenial, antara lain:

Multitasking (tugas ganda)

Inilah kehebatan Generasi Milenial atau Generasi Y sekarang. Perkembangan teknologi mengharuskan mereka bekerja serba cepat. Semua pekerjaan bisa dikerjakan secara bersamaan. 

Lebih kritis 

Dengan semakin derasnya arus informasi, Generasi Millenials tidak akan sekedar menelan informasi yang mereka dapat dari guru atau orang tua. Mereka akan mencoba membandingkan informasi yang mereka dapat dengan apa yang mereka dapat di dunia maya. Lalu cross check lagi. Ini akan membentuk pemahaman baru yang bisa jadi berbeda dari apa yang diajarkan di sekolah maupun di rumah.

Kaya Ide Kreatif

Berkembangnya teknologi dan media sosial saat ini, membuat Generasi Milenial menjadi melek teknologi dan dapat mengakses informasi tanpa batas dari internet. Hal ini jadi salah satu faktor yang mendorong para Generasi Y untuk menciptakan hal baru dengan cara yang kreatif bahkan out of the box. Dengan demikian, hadirnya Generasi Milenial dalam sebuah perusahaan dapat memberikan ide-ide kreatif. Maka tak heran, beberapa kantor start up cenderung memiliki suasana yang tidak kaku bahkan diikuti dengan fasilitas bersantai bagi para pekerjanya.

Cepat Tanggap

Lahir di era digital dan teknologi yang berkembang pesat, menuntut para Generasi Milenial untuk selalu belajar hal baru, karena tidak ingin merasa tertinggal. Faktor inilah yang membuat para Generasi Y, memiliki kemampuan fast learning alias mampu mempelajari hal baru, dengan cepat. Generasi Y juga, memiliki pikiran yang terbuka sehingga tidak menutup diri dari segala saran maupun kritikan, yang memudahkan mereka untuk terus belajar.

Memiliki Sifat yang Fleksibel

Tidak seperti orang-orang yang lahir pada generasi sebelumnya alias Generasi X, yang cenderung kaku dalam menghadapi segala bentuk perubahan. Generasi Milenial justru memiliki sifat fleksibel, dengan yang namanya perubahan selama itu positif. Sifat fleksibel ini membuat mereka dapat dengan mudah beradaptasi dalam setiap perubahan. Dalam dunia kerja para Generasi Y ini, tidak mempermasalahkan perubahan peraturan atau kebijakan, asal hal tersebut tidak menghambat kerja mereka.

Ambisius

Para Generasi Milenial atau Generai Y dikenal memiliki mimpi yang tinggi, pada masa depan mereka, misal mereka harus memiliki posisi yang baik dalam sebuah perusahaan. Hal tersebut merupakan pemacu bagi mereka untuk berusaha keras mengejar target hidup tersebut. Sehingga mereka juga memiliki daya saing yang tinggi, karena ingin menjadi yang terbaik diantara rekannya. Tentunya hal tersebut memiliki dampak positif bagi sebuah perusahaan, karena memiliki pekerja yang selalu berusaha memberikan hasil kerja yang terbaik, hingga tak jarang para pekerja Generasi Y ini, rela lembur demi menyelesaikan pekerjaaan.

Mampu Bekerja Sama dalam Tim Maupun Individu

Sebagian besar Generasi Y, memiliki sikap yang terbuka dan fleksibel, sehingga dalam dunia kerja mereka mampu bersosialisasi dengan baik. Di sisi lain Generasi Y, juga sosok yang mandiri, sehingga Generasi Y ini, mampu bekerja secara individu maupun dalam tim. Karakter ini juga sesuai dengan kondisi start up yang cenderung rentan mengalami perubahan posisi, sehingga tiap pekerjanya harus siap, jika ditempatkan pada descjob yang baru atau berbeda dari posisi awalnya.

Generasi Milenial atau Generasi Y, selain memiliki sisi positif, juga memiliki sisi negatif, antara lain, sbb:

Ingin semua instan 

Kemajuan teknologi menjadikan semuanya dipermudah, jadi maunya serba cepet, dan kurang menghargai proses. Menurut penuturan Septiani Teberlina dari Concord Consulting Indonesia, Generasi Milenial memang lebih paham teknologi, tetapi cenderung berlebihan dalam penggunaannya. 

Selain itu, karena semuanya dipermudah, SEMANGAT atau DAYA JUANG terlihat kurang. Sehingga wajar Generasi X beranggapan bahwa Generasi Y ini, kurang tangguh saat dibenturkan dengan masalah. 

Kurang Beretika 

Sekarang semua serba teknologi. Komunikasi bisa SMS-an, atau BBM, WA, Line, IG, dll . Namun, terkadang mereka lupa kalau mau menyampaikan sesuatu kepada orang tua, melalui SMS, WA, BBM, LINE, padahal lebih sopan kalau telpon langsung. Kurang etis tentunya, kalau komunikasi dengan orang tua dengan menggunakan SMS, WA, dllnya. 

Cenderung permisif 

Sebenarnya ada positifnya juga Generasi ini, yang lebih terbuka terhadap perubahan. Namun terkadang mereka cenderung kebablasan dalam memahami sesuatu, sehingga hal-hal yang dianggap tabu atau melanggar norma agama, sekarang jadi hal biasa saja.

Contohnya, seks pranikah saat ini dianggap biasa saja. Bahkan seorang teman baik menceritakan bahwa di lingkungan kantornya banyak rekan kerja yang memilih hidup bersama tanpa nikah. 

Social skill kurang 

Ini masih ada kaitannya dengan kurang beretika. Dengan maraknya teknologi, mereka terkesan cuek, apatis, masa bodoh dalam berkomunikasi. Dulu, selain tatap muka masih ada telepon. Lalu berkembang ke sms, dan sekarang aplikasi chatting dll. Ini yang sering diprotes ortang tua-orang tua kita. Yang lain jika diajak bicara, malah asyik ber Hp an, update status, posting di IG, dll, sehingga kurang peduli dengan orang-orang di sekitarnya

Menguasai dan menggunakan teknologi boleh-boleh saja, tetapi tetap berkomunikasi tatap muka, dengan orang-orang disekitar kita. Jangan sampai terjadi,teknologi menguasai kita, sehingga menjadikan kita kurang “manusiawi”, yakni yang DEKAT menjadi JAUH, dan yang JAUH menjadi DEKAT, termasuk juga ditempat ibadah Tuhan semakin di jauhkan, semakin tidak dipedulikan.

Sedangkan Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1997 sampai dengan tahun 2014 masehi. Generasi Z adalah generasi setelah Generasi Y. Generasi Z ini, merupakan generasi peralihan Generasi Y dengan teknologi yang semakin berkembang. 

Dalam esai berjudul "The Problem of Generation," sosiolog Mannheim mengenalkan teorinya tentang generasi. Menurutnya, manusia-manusia di dunia ini, akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama, karena melewati masa sosio-sejarah yang sama. 

Pada tahun 2012, ketika jurnalis Bruce Horovitz mengenalkan Generasi Z, rentang umur yang digunakan masih belum jelas. Tetapi istilah itu mulai sering dipakai usai presentasi dari agen pemasaran Sparks and Honey viral pada 2014. Di sana, rentang umur yang dipakai mendeskripsikan Generasi Z adalah kelompok manusia yang lahir tahun 1997 hingga tahun 2014. Namun, setiap negara memiliki rentang waktu yang berbeda-beda.

Tetapi, terlepas perbedaan tahun tersebut, mereka semua sepakat kalau Generasi Z adalah orang-orang yang lahir di generasi internet dan atau generasi yang sudah menikmati keajaiban teknologi usai kelahiran internet.

Bagaimana Generasi Z di Indonesia?

Internet hadir di Indonesia pada tahun 1990. Dan baru pada tahun 1994, Indonet hadir sebagai Penyelenggara Jasa Internet komersial perdana di negeri ini. Jadi, mari kita anggap Generasi Z Indonesia adalah mereka yang lahir pada pertengahan 1990-an sampai medio 2000-an. Jika Generasi Z pertama adalah mereka yang lahir pada tahun 1995, artinya orang yang paling tua dari Generasi Z Indonesia sudah berumur 21 tahun: mereka sudah beranjak dewasa, sudah ikut pemilu, mencari atau sudah punya pekerjaan, dan hal-hal lain yang bisa memengaruhi ekonomi, politik, dan kehidupan sosial dunia kini.

Pada dekade terakhir, Generasi Z terus diteliti. Dari preferensi politik, ekonomi, hingga gaya hidup. Sebab, di dunia ini, belum pernah ada generasi yang sejak lahir sudah akrab dengan teknologi, seperti mereka.

Menurut Hellen Katherina dari Nielsen Indonesia, Generasi Z adalah masa depan. 

“Karena itu penting bagi para pelaku industri untuk memahami perilaku dan kebiasaan mereka,” ungkapnya.

Sejauh ini, Generasi Z dikenal sebagai karakter yang lebih tidak fokus dari milenial, tetapi lebih serba-bisa; lebih individual, lebih global, berpikiran lebih terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja, lebih wirausahawan, dan tentu saja lebih ramah teknologi.

Kedekatan generasi Z ini dengan teknologi sekaligus membuktikan masa depan sektor tersebut akan semakin cerah di tangan mereka. Ini dipengaruhi oleh kehidupan mereka yang sudah serba terkoneksi dengan internet.

7 Karakteristik Generasi Z yang Perlu Kita Ketahui (Sisi Positif)

Psikolog Elizabeth T. Santosa, dalam bukunya yang berjudul "Raising Children in Digital Era" mencatat ada 7 karakteristik generasi Z yang lahir di era digital ini, sbb:

Memiliki Ambisi Besar Untuk Sukses (big ambitious)

“Kids zaman now'' ini, cenderung memiliki ambisi besar untuk sukses, dikarenakan semakin banyaknya role model yang mereka idolakan. Ambisi untuk menggapai mimpi ini juga didukung oleh kondisi dunia yang lebih baik, dan kondisi orang tua yang mayoritas jauh lebih mapan.

2. Berperilaku Instan (behave instantaneously)

Generasi Z menyukai pemecahan masalah yang lebih praktis. Mereka enggan meluangkan proses panjang untuk mencermati suatu masalah. Hal ini disebabkan, karena mereka lahir di dalam dunia yang serba instan. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya perlu mendidik anak tentang konsep proses, daya tahan, dan komitmen dalam menyelesaikan masalah. Bahwa betapa pentingnya suatu PROSES dalam mencapai kesuksesan. Bahkan mungkin PROSES itu melalui kesulitan-kesulitan, melalui perjuangan. Ingat “No Pain, No Gain” Dan tidak ada kemuliaan tanpa pendertiaan.. 

Cinta Kebebasan (love Freedom)

Generasi Z suka dengan kebebasan, baik itu kebebasan berpendapat, kebebasan berkreasi, kebebasan berekspresi, dan lain sebagainya. Bagaimana tidak, mereka ini lahir di dunia modern, serba bebas dan terbuka. Untuk itu, pendidikan karakter mutlak diperlukan, untuk memfilter semua informasi dari luar yang terbuka dan bebas itu. Dan penumbuhan karakter itu, di mulai dari rumah

4. Percaya Diri (Self Confidence)

Karakteristik generasi Z yang keempat adalah percaya diri. Tak dapat dipungkiri, anak-anak yang lahir di generasi ini mayoritas memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Mereka juga memiliki sikap optimistis dalam banyak hal. Mental positif yang seperti ini memang hal yang utama dalam hidup, yaitu bisa melihat permasalahan dari segi positif. 

Namun, para pendidik dan orang tua perlu berhati-hati jangan sampai menjatuhkan rasa percaya diri mereka, saat pembelajaran dan saat memberi masukan. Para Pendidik dan Orang tua perlu memberikan lingkungan kondusif, agar kepercayaan diri (self confidence) dan kompetensi diri mereka tumbuh subur. 

5. Menyukai hal yang detail (like details)

Tak hanya memiliki kepercayaan diri yang tinggi, anak-anak yang lahir di era ini juga menyukai hal yang detail. Generasi Z termasuk generasi yang cenderung kritis dalam berpikir dan detail mencermati suatu permasalahan.

“Di zaman sekarang, mencari informasi gampang sekali, tinggal mengklik tombol search engine. Dengan menulis topik yang ingin ditelusuri melalui google engine, terbukalah jendela dunia yang berisi segala informasi dan gambar yang berkaitan dengan topik tersebut. Makanya, tidak heran kalau anak-anak zaman sekarang kritis, dan selalu bertanya dan bertanya. 

6. Keinginan untuk mendapatkan pengakuan (want to be recoqnized)

Pada dasarnya setiap orang pasti memililki keinginan agar diakui atas kerja keras, usaha, dan kompetensi yang telah didedikasikannya. Namun, anak-anak yang lahir di generasi ini cenderung ingin diberikan pengakuan dalam bentuk reward (pujian, hadiah, sertifikat, dan penghargaan), karena kemampuan dan eksistensinya sebagai individu yang unik. Mereka sering menganggap bahwa diri mereka unik dan istimewa. Makanya, mereka itu membutuhkan justifikasi sebagai bentuk pengakuan terhadap keistimewaan mereka. 

7. Digital dan teknologi informasi (digital and information technology)

Sesuai dengan namanya, generasi Z atau NET lahir saat dunia digital mulai merambah dan berkembang pesat di dunia. Generasi ini sangat mahir dalam menggunakan segala macam gadget yang ada, dan menggunakan teknologi dalam keseluruhan apsek serta fungsi sehari-hari. Mereka ini lebih memilih berkomunikasi melalui dunia maya dan media sosial dibanding menghabiskan waktu bertatap muka dengan orang lain. Sisi positifnya, mereka ini menjadi bagian dari komunitas berskala besar dalam sebuah jaringan media dan teknologi tanpa mengenal satu sama lain melalui internet. Namun, sisi negatifnya mereka memiliki kemampuan komunikasi publik yang cukup rendah. 

5 Sisi Gelap, Fenomena Generasi Z (Sisi Negatif)

Generasi Z adalah generasi yang lahir di era digital, namun demikian, ada beberapa sisi gelap atau negatif, antara lain

Generasi Z ini, lebih mementingkan omongan atau kata orang lain, daripada kata hatinya, terlebih jika ia kesepian karena orang tua yang sibuk bekerja atau ia yang memilih menutup dunianya dengan dunia sosial media yang tak ada henti-hentinya.

Generasi Z, bisa jadi generasi tercuek, karena mereka lebih senang bersosialisasi di sosial media daripada di dunia nyata, terlebih kalau lagi kumpul-kumpul dengan teman, maka yang di pegangnnya adalah Smartphonenya. Jika demikian, maka dia tidak akan peduli dengan orang-orang di sekitarnya, sekalipun itu adalah guru atau orang tuanya. 

Generasi Z, pada umumnya lebih cenderung suka yang instan dan tidak suka yang ribet. Demikianpun dengan hasil belajar, ingin mendapat nilai yang bagus, tetapi tidak mau belajar, karena jaman sudah serba instan.  

Generasi Z pada umumnya terlalu cepat termakan isu, berita yang tidak benar, HOAX dari sumber-sumber yang tidak valid dan yang tidak terpercaya. Dan tanpa pikir panjang kebanyakan langsung “telan mentah-mentah”, bahkan langsung dishare di medsos atau lazim disebut sosmed.

Generasi Z, umumnya di mana-mana tiap hari selalu dengan gadget dan atau smartphone. Gadget atau Smartphone adalah segala-galanya. Dari bangun tidur sampai mau tidur, matanya tidak letih menatap layar HAPE yang mereka sebut smartphone itu. Dan karena keasyikan main HAPE atau smartphone dan beragam gadget yang ada, terkadang mereka LUPA dan atau MALAS belajar, LUPA harus membantu orang tua, dan CUEK dengan dunia disekitarnya, layaknya zombie. 

Penutup

“Perubahan itu menyakitkan, Ia menyebabkan orang merasa tidak aman, bingung, dan marah. Orang menginginkan hal seperti sediakala, karena mereka ingin hidup yang mudah” - Richard Marcinko.

“Kembangkan sikap untuk selalu menjadi lebih baik. Membuat perubahan (perbedaan) yang kecil dalam tindakan akan menghasilkan perubahan (perbedaan) yang besar dalam hasil yang diperoleh” - Brian Tracy

Demikianlah dampak positif dan negatif modernisasi pada Generasi Y dan Z ini, yang secara umum melek teknologi, sehingga para pendidik yang ada disatuan pendidikan, mau tidak mau, suka tidak suka, harus akrab dengan teknologi, sehingga tidak terjadi GAPTEK. Dan ini adalah tantangan tersendiri bagi Generasi X. Apalagi memasuki abad 21, pembelajaran harus berbasis digital, berbasis android, berbasis tablet, berbasis ipad,, maka sekali lagi, suka tidak suka, mau tidak mau harus menguasai teknologi. Disisi lain, dampak negatifnya secara umum bisa dilihat dari perubahan sikap ataupun perilakunya,yakni sikap dan perlakunya yang umumnya tidak kenal etika dan cenderung cuek, tidak peduli terhadap lingkungan disekitarnya. Karena di era modernisasi ini menganut kebebasan dan keterbukaan, yang cenderung “keblablasan”, sehingga mereka bertindak sesuka hati. Namun, disatu sisi jika pengaruh tersebut dibiarkan, maka moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri, dan tidak ada lagi rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi Y dan Z, adalah penerus generasi masa depan bangsa. Terhadap kondisi ini, bagi orang tua dan para pendidik juga mengalami tantangan yang tidak mudah, lantaran berhadapan dengan mindset yang bebas dan terbuka nan “keblablasan”.